JEJAK BIOLOGIS DAN EKSISTENSIAL MANUSIA:

  • September 28, 2026

Membedah Surah At-Tariq Ayat 5-7 Melalui Lensa Sains dan Tafsir (part 2)

Perintah observasi dalam Surat At-Thâriq ayat 5, “Fal-yanzuril-insânu mimma khuliq”, menggunakan bentuk kata kerja fi’il mudhari’ yang diawali lam al-amr, menandakan kewajiban metodologis untuk melakukan pengamatan mendalam. Objek pengamatan difokuskan pada asal mula penciptaan fisik manusia, mengarahkan kesadaran rasional untuk melacak sejarah materialitas kehidupan dari tingkat yang paling mendasar.

Meminjamkerangka hermeneutika Wilhelm Dilthey dalam Introduction to the Human Sciences (1989, h. 78-82), pemahaman manusia atas dirinya sendiri harus melalui kesadaran historis dan biologis. Dilthey membedakan antara penjelasan saintifik alam dan pemahaman eksistensial. Dari kacamata Dilthey, maka teks Al-Qur’an ini menjembatani kedua ranah tersebut melalui perintah pengamatan fisik. Pengamatan materi pembentuk kehidupan menjadi sarana penjelasan empiris yang secara simultan mengarahkan jiwa pada pemahaman eksistensial mengenai asal-usul, keterbatasan dan tujuan keberadaan manusia.

Penafsiran terhadap perintah observasi ini mengalami pengayaan metodologis dari masa ke masa, antara lain: Syeikh Fakhruddin al-Râzi  dalam Mafâtih al-Ghayb, (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Jilid 31, h 128-130) menegaskan bahwa kata “Falyanzur” merupakan perintah penalaran rasional dan pembuktian empiris.

«الْأَمْرُ فِي قَوْلِهِ: {فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ} لِلْوُجُوبِ، وَالنَّظَرُ هُوَ الْفِكْرُ وَالِاسْتِدْلَالُ فِي كَيْفِيَّةِ الْخَلْقِ»

Di sini Al-Râzi menganalisis bahwa struktur cairan pembentuk manusia mengandung tanda kekuasaan Ilahi yang menjadi bukti rasional atas keniscayaan hari kebangkitan.


Imam Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Jilid 20, h. 4-6) mempertegas fungsi reflektif agar manusia merenungkan dari apa ia diciptakan dan dari bahan apa ia diciptakan, agar ia mengetahui kesempurnaan kekuasaan Allah Azza wa Jalla untuk membangkitkan kembali manusia setelah kematian. Syaikh Tantawi Jauhari dalam Al-Jawâhir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Jilid 25, h. 112-115) mendorong pemanfaatan instrumen sains modern untuk membedah ayat ini. “Fa fî hâdzihi al-âyah amrun tashrîhun bidirâsati ‘ilm al-Ajinnah wa al-tasyrîh wa ‘ulum al-thabi’ah”, bahwa  perintah ayat ini menjadi dasar kewajiban ilmiah bagi umat Islam untuk mempelajari biologi, anatomi, dan kimia medis, dan lain-lain.

Sementara itu Zaghloul Al-Najjar dalam Al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an al-Karim, (Dar al-Ma’rifah, h. 68–72) memaparkan tingkat ketelitian redaksi ayat:

«إِنَّ الدِّقَّةَ الْعِلْمِيَّةَ فِي التَّعْبِيرِ الْقُرْآنِيِّ عَنْ مَادَّةِ الْخَلْقِ تَتَوَافَقُ مَعَ حَقَائِقِ عِلْمِ الْأَحْيَاءِ الْمُعَاصِرِ»

Reduksi materi manusia hingga tingkat molekuler membuktikan ketelitian Al-Qur’an yang sejalan dengan penemuan biokimia reproduksi modern.

Kemudian menurut pakar embriologi Keith L. Moore dalam The Developing Human: Clinically Oriented Embryology with Islamic Additions, (W.B. Saunders Co., h. 8-12) menyatakan bahwa deskripsi Al-Qur’an mengenai tahap awal perkembangan manusia membutuhkan instrumen mikroskopis modern untuk dapat dipahami secara utuh. Penerapan perintah “falyanzur” dilihat dari perspektif sains modern mewujud pada beberapa disiplin dan teknologi utama. Pertama, Biokimia molekuler, yaitu ilmu untukmenganalisis komposisi asam nukleat, protein, dan enzim dalam sperma serta ovum. Sains membuktikan bahwa informasi genetika yang menentukan seluruh sifat fisik manusia telah tersimpan dalam susunan molekul DNA sejak penyatuan sel ganda. Kedua, Perlunya penggunaan mikroskopi elektron berresolusi tinggi yangmemungkinkan ilmuwan mengamati struktur ultra membran sel, dinamika penetrasi sperma ke dalam sel telur, serta proses rekombinasi kromosom pada tingkat nanometer. Ketiga, Perlu pemodelan pembelahan sel awal melalui simulasi komputasional dan model matematika biokimia untuk menganalisis tahap pembelahan awal dari zigot menuju morula dan blastokista. Pemodelan ini mengungkap keteraturan hukum fisika dan kimia yang mengontrol pembagian sel secara presisi.

Pada titik ini dapat dikatakan bahwa integrasi antara pengamatan materialistik dan refleksi kejiwaan membuktikan bahwa penelitian ilmiah atas asal-usul biologis berfungsi sebagai sarana epistemologis. Penyingkapan fakta mikroskopis mengenai rumitnya proses pembentukan awal kehidupan manusia pada akhirnya memperkuat pemahaman tentang eksistensial manusia mengenai kedudukannya di hadapan Sang Pencipta.

Kemudian lanjutan firman Allah Azza wa Jalla  خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (Dia diciptakan dari air yang memancar).Ayatini memperdalam perintah observasi pada ayat sebelumnya dengan menunjuk secara eksplisit sifat fisik materi pembentuk manusia, yaitu  “mā’in dāfiq” (air yang memancar/terpancar). Penggunaan bentuk kata sifat aktif (ism fa’il) dāfiq menggambarkan bahwa cairan reproduksi bukan sekadar medium pasif, melainkan sistem fluidik dinamis yang bergerak di bawah gaya hidraulik dan membawa energi mekanis untuk mentransmisikan kehidupan.

Dalam kerangka pemikiran Dilthey, kajian ini memiliki irisan dengan konsep Erlebnis (baca: pengalaman hidup primordial yang dihayati) sebagai fondasi utama bagi manusia untuk memahami realitas eksistensialnya sebelum terabstraksi oleh teori formal. Dalam konteks ayat ini, “mā’in dāfiq” mewujud sebagai manifestasi fisik dari Erlebnis primordial. Pancaran air mani bukan sekadar fenomena biologis biasa, melainkan momen fisik di mana dorongan kehidupan (lebenskraft) mengekspresikan dirinya dalam materi cair. Ini berarti pengalaman kejiwaan manusia berakar pada dinamika vitalitas biologisnya. Jadi, ketika Al-Qur’an menggambarkan asal mula manusia dari “air yang memancar”, manusia diajak untuk merasakan (erleben) kembali pengalaman asal-usulnya yang penuh dinamisme, sehingga kesadaran akan kerapuhan sekaligus keagungan penciptaan fisik menjadi bagian integral dari pemahaman historis-eksistensial dirinya.

Pandangan para mufasir dari berbagai era menganalisis diksi “dāfiq” dengan pendekatan kebahasaaan, fisika cairan, dan fisiologi reproduksi. Syaikh Fakhruddin al-Râzi (Jilid 31, h. 130-132) menganalisis alasan penggunaan kata dāfiq (yang memancar/meluncur) ketimbang madfūq (yang dipancarkan):

«مَعْنَى “دَافِقٍ” أيْ ذِي دَفْقٍ، وَالدَّفْقُ هُوَ الصَّبُّ بِشِدَّةٍ وَقُوَّةٍ، وَعُبِّرَ بِالْفَاعِلِ لِلْمُبَالَغَةِ فِي اتِّصَافِ الْمَاءِ بِالْحَرَكَةِ وَالدَّفَعَانِ» Bahwa makna ‘dāfiq’ adalah yang memiliki daya pancar. Al-dafq berarti penuangan cairan dengan kuat dan cepat. Penggunaan bentuk ism fa’il (kata pelaku) bertujuan memberikan penekanan hiperbolis atas sifat dinamis cairan tersebut yang terus bergerak dan terdorong.” Al-Razi menegaskan bahwa sifat dinamis pancaran ini mengindikasikan adanya energi inheren yang dirancang untuk mencapai tujuan pembuahan.

Ibn Kathir, dalam  Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, menyoroti dinamika pemancaran cairan dari dua belah pihak yang berpadu, yakni air mani yang keluar memancar dari laki-laki dan wanita, lalu dari perpaduan keduanya lahirlah anak atas izin Allah. Imam Al-Qurtubi dalam Al-Jami’, (Jilid 20, h. 6-7) mempertegas fungsi efisiensi gerak cairan reproduksi bahwa Al-Dafq adalah penuangan air dengan cepat dan dorongan kuat, yang menunjukkan vitalitas materi sperma serta kemampuannya untuk menembus/melintasi saluran reproduksi.

Syaikh Tantawi Jauhari dalam  Al-Jawâhir  (Mustafa al-Babi al-Halabi, Jilid 25, h. 115- 118) mengaitkan ayat ini secara langsung dengan kajian fisiologi modern.

«إِنَّ وَصْفَ الْمَاءِ بِالدَّافِقِ يَلْفِتُ الأَنْظَارَ إِلَى حَرَكَةِ السَّوَائِلِ البِيُولُوجِيَّةِ وَقَوَانِينِ الْهِيدْرُودِينامِيكَا فِي أَعْضَاءِ التَّنَاسُلِ»

“Penyifatan air dengan kata ‘dāfiq’ mengarahkan perhatian pada gerakan cairan biologis dan hukum-hukum hidrodinamika di dalam organ reproduksi.” Kemudian Zaghloul El-Naggar dalam Al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an al-Karim, (Dar al-Ma’rifah, h. 73-76) memaparkan ketepatan istilah teknis dāfiq, bahwa ungkapan ‘dāfiq’ secara akurat merujuk pada tekanan hidraulik serta pergerakan independen spermatozoa di dalam medium cair.

Sementara itu pakar embriologi Keith L. Moore dan T.V.N. Persaud (The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, Elsevier, h. 14-18) menjelaskan bahwa proses ejakulasi melibatkan kontraksi peristaltik otot polos yang menghasilkan tekanan hidraulik signifikan untuk meluncurkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita. Kata dāfiq merefleksikan tidak hanya tekanan mekanis saat ejakulasi, tetapi juga sifat reologi dan motilitas mandiri sel sperma di dalam medium cair. Jika meminjam teori Moore, maka penerapan ayat ini dalam konteks teknik biometris dan rekayasa biologis modern mencakup tiga fokus utama, yaitu (1) Analisis Mikrofluidika dalam Pembuahan Buatan (IVF). Artinya, sains reproduksi modern memanfaatkan teknologi chip mikrofluidika (microfluidic chips) yang dirancang untuk meniru kondisi reologi dan pola aliran fisiologis dalam saluran reproduksi betina (tuba Falopi). Perangkat ini memanfaatkan prinsip hidrodinamika skala mikro untuk menyeleksi spermatozoa paling motil berdasarkan daya renang dan kemampuannya melawan arus (rheotaxis), tanpa merusak keutuhan DNA sel sebagaimana yang sering terjadi pada metode sentrifugasi konvensional. (2) Rekayasa viskositas cairan media simpan sperma. Dalam teknologi kriopreservasi dan penyimpanan sel sperma, analisis sifat reologis plasma semen sangat krusial. Peneliti bisa merancang media simpan sintetik dengan mengatur tekanan osmotik, viskositas, dan tegangan permukaan agar dapat meredam shear stress (tegangan geser) saat pembekuan dan pencairan kembali (thawing). Regulasi viskositas ini memastikan bahwa membran sel sperma tetap utuh dan fungsi motilitas flagela dapat dipertahankan. Dan (3) Riset Biomekanika Pergerakan Flagela Sel. Melalui pola ini pergerakan sperma di dalam cairan kental beroperasi pada domain fisika yang dikenal sebagai Low Reynolds Number Hydrodynamics (sebagaimana dirumuskan dalam Teorema Perenang Purcell). Karena efek inersia diabaikan pada skala mikro, flagela sel sperma harus menghasilkan gelombang sinusoidal atau heliks berulang untuk mendorong dirinya ke depan. Riset biomekanika modern menganalisis bagaimana konversi energi kimia (ATP) menjadi gaya dorong mekanis (thruster force) memungkinkan sel sperma mengatasi resistensi viskositas mukus serviks.

Dengan demikianpenggabungan antara istilah “mā’in dāfiq”, pandangan hermeneutik Dilthey tentang Erlebnis, dan prinsip-prinsip hidrodinamika biologi modern membuktikan kedalaman makna Al-Qur’an. Perintah untuk mengamati air yang memancar menuntun manusia pada dua muara epistemologis, yaitu secara saintifik, memicu lahirnya inovasi teknologi medis modern seperti mikrofluidika reproduksi dan biomekanika selular; dan secara eksistensial, menyadarkan jiwa bahwa momentum biologis yang paling awal sekalipun telah diatur oleh hukum-hukum fisika yang sangat presisi di bawah kehendak Sang Pencipta.

Pada ayat berikutnya surah At-Tariq ayat 7, “يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (Yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada). Ayat ini memperluas pengamatan biologis dengan memaparkan asal-usul historis-anatomis dari organ reproduksi. Penggunaan kata “yakhruju” (keluar/muncul) mengindikasikan proses dinamis pembentukan dan perpindahan (migrasi) asal-usul materi kehidupan dari kawasan spesifik dalam tubuh janin, yaitu wilayah di antara ash-shulb (tulang punggung/kolom vertebra) dan at-tara’ib (tulang-tulang dada/iga).

Meminjamteori hermeneutika Wilhelm Dilthey dalam The Construction of the Historical World in the Human Sciences, (Princeton University Press, 2010, h 142-148), konsep Geschichtlichkeit (kesadaran historis) menegaskan bahwa struktur biologis maupun eksistensial manusia tidak dapat dipahami secara terpisah dari sejarah pembentukannya. Setiap wujud saat ini membawa jejak historis yang menentukan fungsi dan sifat dasarnya.

Dalam konteks ayat ini, organ reproduksi dewasa (testis pada pria dan ovarium pada wanita) memiliki “sejarah perkembangan” (developmental history) yang terekam sejak fase embrio. Meskipun posisi organ reproduksi dewasa terletak di luar rongga perut (scrotum) atau di panggul bawah, pendarahan dan persarafan organ tersebut tetap terhubung secara historis ke area asal pembentukannya di rongga dada-punggung bagian atas (setinggi vertebra lumbalis/torakalis). Melalui lensa Geschichtlichkeit, Al-Qur’an mengajak manusia memahami anatomi dirinya bukan sekadar sebagai wujud statis hari ini, melainkan sebagai hasil dari jejak historis perkembangan janin yang kompleks.

Penafsiran mengenai frasa “ash-shulb dan at-tara’ib” mengalami evolusi pemaknaan yang semakin mengagumkan saat disandingkan dengan temuan embriologi. Syiakh Fakhruddin al-Razi (Jilid 31, h. 132-134) menganalisis pemaknaan lokasi fisiologis tempat tumbuhnya benih kehidupan, yakni awal mula pertumbuhan materi mani dan pembentukannya secara kodrati kembali pada kawasan yang terpencil di antara punggung dan dada. Al-Razi menegaskan bahwa area ini merupakan pusat persaraf dan pembuluh darah utama yang memberi daya bagi pembentukan sel reproduksi.

Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, mencatat letak geografis anatomis dalam tubuh yaitu tulang punggung laki-laki dan tulang dada wanita, dan dari antara keduanya muncul asal mula penciptaan. Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ (Jilid 20, h. 7-9) menjelaskan secara kebahasaan  “At-Tara’ib adalah bentuk jamak dari taribah, yaitu tulang-tulang dada. Ayat ini mengisyaratkan lokasi pemisahan materi vital pada awal fase pembentukan.

Tantawi Jauhari dalam Al-Jawahir  (Jilid 25, h. 118-121) menghubungkannya secara eksplisit dengan jaringan embriologi. Syaikh Tantawi menulis:

هَذِهِ الآيَةُ الكَرِيمَةُ تَكْشِفُ عَنْ حَقِيقَةٍ أَمْبِرْيُولُوجِيَّةٍ بَدِيعَةٍ، إِذْ تَبْدَأُ نَشْأَةُ المَبِيضَيْنِ وَالخُصْيَتَيْنِ فِي الجَنِينِ مِنْ المِنْطَقَةِ المَحْصُورَةِ بَيْنَ الظَّهْرِ وَالصَّدْرِ

“Ayat yang mulia ini mengungkap fakta embriologi yang indah, di mana awal pertumbuhan ovarium dan testis pada janin dimulai dari area yang terapit di antara punggung dan dada.”

Sementara menurut Zaghloul, migrasi seluler organ reproduksi bahwa area diferensiasi awal bagi organ-organ reproduksi pada fase embrio terletak di dekat kolom tulang punggung dan tulang dada, sebelum kemudian bermigrasi ke lokasi akhirnya.

Perlu juga direnungkan pendapat pakar embriologi Keith L. Moore dan T.V.N. Persaud yang memaparkan fakta ilmiah bahwa kelenjar kelamin (gonad) janin (baik testis maupun ovarium) mulai berkembang pada minggu ke-5 kehamilan dari jaringan gonadal ridge (pematang gonad). Pematang ini terletak di bagian dorsal rongga abdomen, persis di area antara kolom tulang punggung (ash-shulb) dan batas bawah tulang dada/iga (at-tara’ib). Seiring perkembangan janin, organ ini mengalami migrasi (descensus testium/ovarii) Dimana testis turun menuju skrotum dan ovarium turun ke pelvis. Namun, pembuluh darah utama (arteri dan vena testicularis/ovarica) serta persarafannya tetap berasal dari aorta abdominalis di area panggul atas/dada bawah—merekam sejarah lokasi asalnya.

Jika dianalisis lebih lanjut, kata Moore dan Persaud,  penerapan konsep sejarah per-kembangan tubuh ini melahirkan tiga terobosan teknologi medis. Pertama, Embriologi Medis dan Diagnosis Kelainan Kongenital. Pemahaman atas jalur migrasi historis organ reproduksi menjadi fondasi untuk mendiagnosis dan menangani kelainan medis seperti kriptorkidisme (testis tidak turun). Dokter bedah pediatric memanfaatkan peta lintasan historis dari area punggung-dada ke skrotum untuk melakukan tindakan orchiopexy. Kedua, Pemetaan Migrasi Sel Punca Reproduksi (Primordial Germ Cells). Teknologi pewarnaan imunohistokimia dan analisis molekuler memungkinkan ilmuwan memetakan pergerakan Sel Punca Benih Primordial (Primordial Germ Cells / PGCs). Sel-sel benih ini mula-mula terbentuk di dinding kantung kuning telur (yolk sac) dan bermigrasi sepanjang mesenterium dorsal menuju pematang gonad yang terletak tepat di antara tulang punggung dan kawasan iga bawah janin. Ketiga, Teknologi Pemindaian Ultrasonografi Empat Dimensi (4D USG).  Di sini penggunaan USG 4D berresolusi tinggi memungkinkan dokter kandungan memantau proses organogenesis janin secara real-time. Teknologi ini dapat merekam pembentukan awal organ internal, memantau suplai darah dari aorta dorsal, serta mengamati diferensiasi seksual dan penurunan gonad sesuai dengan usia gestasi janin. Dari paparan ini maka deskripsi Al-Qur’an mengenai asal-usul materi kehidupan dari antara tulang punggung dan tulang dada membuktikan integrasi sempurna antara hermeneutika sejarah Geschichtlichkeit dan bukti embriologi modern. Teks Al-Qur’an tidak sekadar mendeskripsikan anatomi statis, melainkan menunjuk pada koordinat historis mula jadi kehidupan manusia. Penyingkapan jejak historis pembentukan janin ini mengukuhkan bahwa riset ilmiah modern atas tubuh manusia merupakan refleksi spiritual yang mengarahkan kesadaran pada keagungan perancangan Ilahi. Wallahu A’lam.

Tags:

Share:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

BUKITTINGGI — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bukittinggi melakukan audiensi dengan Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, S.TP., dalam...
Prof. Nunu Burhanuddin Pernahkah kita merasa begitu kerdil di tengah megahnya jagat raya, namun di saat bersamaan justru bertingkah jumawa...
Oleh : Nunu Burhanuddin Ketika hujah fiqih telah purna dan benteng sejarah berdiri kokoh, ada satu ruang dalam sanubari yang...
Oleh : Prof. Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc., M.Ag Saat fajar Rabiul Awal menyapa, ingatan kita kembali terbawa pada momentum...