Prof. Nunu Burhanuddin
Pernahkah kita merasa begitu kerdil di tengah megahnya jagat raya, namun di saat bersamaan justru bertingkah jumawa seolah menguasai dunia?! Sikap merasa besar dan lupa asal-usul ini sejatinya disindir halus dalam falsafah Minangkabau Alam takambang jadi guru yang diurai A.A. Navis. Falsafah ini mengajak kita menjadikan alam sebagai cermin besar agar manusia “tahu diri” —paham akan batas keterbatasan dirinya dan mau menundukkan kesombongan sebelum terlambat (I.H. Dt. Rajo Pengulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, Remaja Rosdakarya, 1994, h. 45).
Surat At-Thâriq hadir persis dengan semangat pembacaan alam tersebut, bagaikan ketukan keras di tengah malam yang sunyi. Ia memecah kesombongan manusia dengan dua cermin raksasa: dahsyatnya Bintang Pengetuk (at-Thâriq) di atas sana dan betapa ringkihnya cairan asal-usul tempat kita diciptakan. Di balik ritme ayatnya yang pendek dan menghentak, surat At-Thâriq bukan sekadar bab sains tentang astronomi atau embriologi. Ia adalah tamparan realitas. Surat ini menelusuri jejak manusia dari rahim, memperlihatkan keteraturan alam, lalu menguncinya dengan sebuah peringatan tajam tentang suatu hari di mana seluruh rahasia yang kita sembunyikan rapat-rapat ditelanjangi tanpa sisa, dan tak ada satu pun benteng yang bisa menyelamatkan.
Kajian Surat At-Thâriq bukan sekadar untuk mengagumi keajaiban Al-Qur’an, melainkan untuk membongkar satu pertanyaan paling mendasar dalam hidup kita: jika seluruh alam semesta tunduk pada ketetapan-Nya dan mengajarkan kerendahan hati, lantas atas dasar apa kita masih berani berjalan di bumi dengan angkuh dan penuh kesombongan?!
Pertama, Ayat وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ (Demi langit dan yang datang pada malam hari) meletakkan pilar keilmuan astronomi observasional yang memadukan fenomena fisik. Penggunaan kalimat sumpah “Demi langit” (Wa as-samā’i) di awal ayat menjadi penanda tegas bahwa apa yang disampaikan merupakan realitas kosmik yang sangat agung dan penting. Dalam tradisi Al-Qur’an sumpah Allah Azza wa Jalla atas nama ciptaan-Nya menandakan bahwa objek tersebut memiliki peran krusial sebagai panggung utama bagi fenomena At-Thariq (bintang pengetuk) dan An-Najm At-Thaqib (bintang yang menembus), yang dalam astronomi modern merujuk pada bintang pulsar.
Sebagaimana dijelaskan oleh pakar geofisika Zaghloul El-Naggar dan riset astronomi modern, pulsar adalah sisa-sisa ledakan bintang raksasa yang sangat padat. Sejak ditemukannya sinyal dari bintang ini oleh Jocelyn Bell Burnell pada tahun 1967, para ahli mengetahui bahwa pulsar berputar sangat cepat, mencapai ratusan kali dalam satu detik, sambil memancarkan gelombang energi. Ketika sinyal tersebut ditangkap oleh teleskop radio dan diubah menjadi suara, bunyinya terdengar persis seperti ketukan pintu di tengah ruang angkasa yang sunyi. Sementara itu kata “Tsaqib” menggambarkan pancaran energinya yang sangat kuat, seperti sinar-X dan sinar Gamma, yang sanggup menembus tebalnya debu antariksa hingga mencapai bumi.
Sumpah atas keagungan langit beserta fenomena pulsar ini sejalan dengan pemikiran filsuf Wilhelm Dilthey tentang dua cara manusia mempelajari dunia, yaitu menjelaskan fakta ilmiah (Erklären) dan memahami makna kehidupan (Verstehen). Sumpah “Demi langit” berfungsi sebagai ajakan untuk memandang alam semesta secara utuh. Melalui pendekatan sains (Erklären), para ilmuwan mengukur kecepatan putar, frekuensi gelombang, dan medan magnet bintang ini secara rinci menggunakan matematika. Namun melalui pendekatan makna (Verstehen), sumpah kosmik dan suara ketukan teratur dari bintang tersebut bukan sekadar data mentah laboratorium. Kalimat sumpah itu menjadi teguran dan penanda nyata yang menyadarkan manusia akan betapa teraturnya hukum Tuhan yang mengatur alam semesta. Ini berarti pengamatan atas langit dan bintang ini tidak berhenti pada riset fisika murni, melainkan menggerakkan hati manusia untuk merenungkan keberadaan dirinya di tengah lautan antariksa.
Kedua, Pertanyaan retoris وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ (Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?) bukan sekadar pemanis bahasa, melainkan sebuah kejutan kognitif (cognitive shock) yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan batas kepemasan berpikir manusia. Dalam tradisi linguistik Al-Qur’an, pola kalimat “Wa mā adrāka” selalu menandai hadirnya suatu realitas yang melampaui batas jangkauan pancaindra dan intuisi awam. Kalimat ini mengubah cara pandang manusia, dari sekadar pengamat pasif yang melihat langit, menjadi seorang peneliti aktif yang disadarkan bahwa ada rahasia besar di balik kegelapan malam yang menuntut penyelidikan mendalam.
Di sinilah pertanyaan mukjizat tersebut bertemu secara presisi dengan konsep Verstehen (baca: pemahaman makna mendalam) dalam hermeneutika Wilhelm Dilthey. Ketika indra manusia mengalami keterbatasan untuk melihat fenomena kosmik secara langsung –karena At-Thariq atau bintang pulsar berada ribuan tahun cahaya jauhnya dan bekerja di luar spektrum cahaya tampak– pendekatan observasi fisik mentah atau mencari hukum sebab akbat (baca: Erklären) tidak lagi cukup. Dilthey mengajarkan bahwa untuk memahami realitas tersembunyi, manusia harus melakukan lompatan pemaknaan (Verstehen) dengan menghubungkan tanda-tanda yang ditangkap instrumen sains ke dalam struktur kesadaran sejarah dan pengetahuan ilmiah. Pertanyaan ayat ini seolah menegaskan, “Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar tahu hanya dengan melihatnya sekilas; kamu harus menggali maknanya, merumuskan hipotesisnya, dan memahami pesan di balik keberadaannya.”
Dalam wacana sains modern, transformasi cara berpikir inkuisitif ini menjadi fondasi lahirnya metode riset astrofisika teoretis dan eksplorasi antariksa modern. Ketika ilmuwan tidak dapat “melihat” objek kosmik tersembunyi secara visual —seperti lubang hitam (black hole), gelombang gravitasi, atau bintang neutron– mereka menggunakan logika pemodelan matematika dan simulasi komputasi untuk merekonstruksi wujudnya. Penggunaan instrumen canggih seperti Teleskop Luar Angkasa James Webb atau detektor gelombang gravitasi LIGO adalah manifestasi nyata dari spirit ayat ini, yaitu upaya pantang menyerah manusia untuk menyingkap dan “memberi makna” pada fenomena antariksa yang tak kasat mata melalui integrasi data, sains, dan kesadaran penalaran.
Ketiga, Frasa النَّجْمُ الثَّاقِبُ (An-Najm At-Thaqib) secara bahasa berakar dari kata “thaqaba” yang berarti melubangi, menembus, atau memancarkan cahaya yang membelah kegelapan. Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim karya Abu al-Fida’ Ibn Kathir (Dar Thaybah, 1999, Jilid 8, h. 374), kata ini dimaknai sebagai bintang terang yang pancaran cahayanya sanggup menembus kegelapan malam hingga tampak jelas di Bumi. Ketika ditarik ke dalam ranah astrofisika modern —sebagaimana dijelaskan oleh pakar geofisika Zaghloul El-Naggar dalam bukunya Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur’an Al-Karim (Maktabah al-Shorouk al-Duwaliyyah, 2007, Jilid 2, h. 142–145)— sifat “menembus” ini menggam-barkan emisi radiasi berenergi sangat tinggi dari objek kosmik berkerapatan ekstrem, seperti bintang neutron atau pulsar (sebagaimana dipetakan oleh Andrew Lyne & Francis Graham-Smith dalam Pulsar Astronomy, Cambridge University Press, 2012, h. 1–5). Massa inti bintang ini begitu padat hingga satu sendok teh materinya berbobot miliaran ton, menghasilkan gaya gravitasi dan medan magnet raksasa yang memancarkan gelombang elektromagnetik berdaya tembus luar biasa melintasi tebalnya debu antarbintang.
Dalam kerangka hermeneutika Dilthey melalui karyanya Gesammelte Schriften (Vandenhoeck & Ruprecht, 1992, h. 205-208), pancaran energi fisik ini bertindak sebagai “Ausdruck” atau ekspresi objektif dari keadaan internal objek yang tersembunyi. Dilthey mengajarkan bahwa realitas yang tidak dapat disentuh langsung hanya bisa dipahami apabila manusia membaca dan menafsirkan ekspresi terikat yang dipancarkan oleh objek tersebut. Karena manusia tidak mungkin mendatangi bintang neutron secara fisik, bintang tersebut “mengeksplorasikan” dirinya melalui gelombang radiasi yang menem-bus ruang hampa. Sinyal dan data spektrum gelombang ini menjadi data empiris yang harus didekodifikasi oleh para ilmuwan untuk memahami struktur materi paling padat di alam semesta.
Prinsip dekodifikasi radiasi berdaya tembus tinggi ini menjadi fondasi bagi berbagai lompatan teknologi riset modern. Di ruang angkasa, para astronom menggunakan teleskop spektroskopi sinar-X seperti Chandra X-ray Observatory serta observatorium gelombang gravitasi LIGO untuk membaca emisi radiasi hasil benturan bintang padat. Sementara di Bumi, fenomena radiasi menembus ini dimanfaatkan dalam teknologi muografi (tomografi muon berbasis sinar kosmik). Sebagaimana dicatat dalam laporan riset Kunihiro Morishima et al., “Discovery of a big void in Khufu’s Pyramid by observation of cosmic-ray muons,” yang diterbitkan dalam jurnal Nature, Vol. 552 (2017, h. 386–390), partikel kosmik berdaya tembus tinggi dimanfaatkan untuk memindai dan memetakan ruangan rahasia di dalam struktur padat Piramida Agung Giza tanpa membongkar batuannya. Penerapan ini membuktikan bagaimana isyarat Al-Qur’an tentang bintang yang “menembus” mendasari metodologi ilmiah dalam membaca rahasia terselubung, baik di kedalaman antariksa maupun di dalam materi padat Bumi.
Keempat, Ayat إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ (Setiap jiwa pasti ada penjaganya) menegaskan prinsip dasar tentang keberadaan sistem pemeliharaan yang bekerja secara konstan. Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim karya Abu al-Fida’ Ibn Kathir (Dar Thaybah, 1999, Jilid 8, h. 374-375), kata “ḥāfiẓ” dipahami sebagai malaikat penjaga yang ditetapkan Allah Azza wa Jalla untuk melindungi tubuh, mencatat amal, serta menjaga keberlanjutan hidup manusia hingga batas waktu yang ditentukan. Ketika ditarik ke dalam tafsir keilmuan—sebagaimana diuraikan oleh Zaghloul El-Naggar— prinsip “ḥāfiẓ” ini memanifestasi dalam mekanisme biologis internal. Setiap sel manusia dilengkapi sistem pemeliharaan informasi genetik dan pertahanan imunologis yang secara nonstop menjaga integritas fisik tubuh dari kerusakan, mutasi radikal, serta ancaman patogen dari luar.
Gagasan pemeliharaan ini sejajar dengan pemikiran Dilthey dalam karyanya Gesammelte Schriften, Vandenhoeck & Ruprecht, 1992, h. 131-135) mengenai pentingnya pemeliharaan identitas manusia (Zusammenhang des Lebens) dalam ranah Geisteswissenschaften. Dilthey menekankan bahwa keberlanjutan sejarah dan kesadaran diri manusia hanya mungkin terjadi jika ada struktur yang secara konsisten menjaga memori, pengalaman, dan entitas diri dari disintegrasi. Dalam kacamata sains modern, pemeliharaan identitas historis ini beroperasi secara paralel pada dua aras, yaitu keberlanjutan spiritual-jiwa dan kestabilan biologis-genomik. Tanpa adanya sistem “penjaga” yang memelihara memori imunologis dan ketelitian replikasi DNA, kontinuitas kehidupan manusia sebagai individu yang utuh akan runtuh oleh entropi biologis.
Maka konsep “ḥāfiẓ” sebagai penjaga informasi biologis melahirkan berbagai disiplin dan aplikasi sains terdepan. Dalam imunologi seluler dan biologi molekuler, Bruce Alberts et al. dalam Molecular Biology of the Cell (Garland Science, edisi ke-6, 2014, hlm. 237–242) menjelaskan bagaimana mekanisme DNA repair dan titik pemeriksaan sel (cell cycle checkpoints) bertindak sebagai penjaga biologis yang memindai serta memperbaiki kerusakan genom sebelum berkembang menjadi kegagalan sistemik seperti kanker. Menurut Jennifer A. Doudna dan Samuel H. Sternberg, pada ranah rekayasa genetic hal itu menunjukkan bahwa teknologi CRISPR-Cas9 sebenarnya diadopsi dari sistem kekebalan adaptif bakteri yang berfungsi sebagai penjaga alami dari invasi materi genetik asing. Lebih jauh lagi prinsip perlindungan identitas ini melahirkan riset enkripsi data genomik (DNA data security), yang dirancang untuk mengamankan informasi identitas biologis individu agar tidak dimanipulasi, mempertegas pesan ayat tentang hadirnya sistem pelindung di setiap jenjang eksistensi manusia.
Kajian epistemologis Surat At-Thâriq ini berhasil merajut sintesis komprehensif antara astrofisika dan bioforensik melalui kerangka hermeneutika Wilhelm Dilthey, yang menjembatani data fisika empiris seperti gelombang bintang pulsar dan teknologi tomografi muon dengan pemaknaan mendalam atas mekanisme pemeliharaan genetik seluler hingga sistem CRISPR-Cas9. Dengan membuktikan bahwa hukum keteraturan radiasi di antariksa berjalan sejajar dengan presisi informasi biologis di dalam genom manusia, kajian ini menegaskan bahwa integrasi nilai Al-Qur’an dan sains modern tidak hanya memperluas batas eksplorasi teknologi terapan, tetapi juga mereorientasi hakikat ilmu pengetahuan untuk meruntuhkan kesombongan intelektual manusia di hadapan Keagungan Pencipta.
Bonjovi, 21 September 2026