Kalau ada yang masih percaya sepak bola selalu berpihak kepada tim unggulan, mungkin tadi pagi ia lupa bahwa bola itu bundar, bukan dipahat dari granit Jerman. Julukan Der Panzer –yang selama ini identik dengan mesin perang yang sulit dihentikan, justru “mogok di tanjakan” ketika berhadapan dengan Paraguay, tim yang dianggap sebelah mata. Banyak pengamat menjagokan Jerman melaju mulus, tetapi kenyataannya mereka tersingkir lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 1–1. Bahkan gol yang sempat dianggap penyelamat pun dianulir VAR, seolah dewi fortuna sedang mengambil cuti dari kubu Jerman. Dalam sepak bola, statistik boleh memihak, penguasaan bola boleh mendominasi, tetapi papan skor sering kali memiliki selera tersendiri. Kekalahan Jerman dari Paraguay menjadi pengingat bahwa tidak ada tim yang kebal dari kejutan, sang raksasa pun sesekali bisa terpeleset oleh kerikil kecil.
Dalam sepak bola menang (win) dan kalah (lost) adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kemenangan memang menghadirkan kebahagian dan euforia, tetapi kekalahan bukanlah aib yang harus disesali tanpa henti. Orang kalah sering disebut “pecundang”, atau “Menang jadi Naga, kalah jadi cacing”, atau “Bak ayam manang kokok, kalah manyuruak”. Banyak faktor yang menentukan hasil sebuah pertandingan, apakah faktor usia pemain yang perlahan menggerus kecepatan, variasi serangan yang mulai mudah dibaca lawan, mental yang runtuh di bawah tekanan, hingga keberuntungan yang terkadang lebih memihak tim yang tidak diunggulkan (underdog). Oleh sebab itu menyederhanakan kekalahan hanya pada satu penyebab adalah cara berpikir yang terlalu sempit. Sebagaimana kehidupan, sepak bola selalu lebih kompleks daripada sekadar angka di papan skor. Kitab suci mengingatkan, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 140). Tidak ada kemenangan yang abadi, sebagaimana tidak ada kekalahan yang berlangsung selamanya.
Filosof Jerman Friedrich Nietzsche dalam bukunya Twilight of the Idols (1889), pada bagian Maxims and Arrows, menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Siapa yang memiliki tujuan hidup akan mampu menghadapi hampir segala kesulitan. Dalam sepak bola, kekalahan bukanlah akhir perjalanan, melainkan ujian atas alasan mengapa sebuah tim terus berlatih, memperbaiki diri, dan tetap percaya pada proses. Sementara Albert Camus, filsuf Prancis peraih Nobel Sastra yang semasa mudanya menjadi penjaga gawang, pernah mengatakan, “What I know most surely about morality and the duty of man I owe to football.” Ucapan itu lahir dari pengalaman hidupnya bahwa lapangan hijau bukan sekadar arena mengejar skor, melainkan sekolah tentang moralitas, tanggung jawab, sportivitas, dan solidaritas. Bola yang bundar menjadi metafora kehidupan: manusia wajib berikhtiar sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman.
Pepatah, “setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya,” menemukan maknanya di lapangan hijau. Tidak ada generasi emas yang berlangsung selamanya. Pemain yang dahulu berlari secepat angin, suatu hari akan berlari sambil sesekali melirik bangku cadangan. Pergantian generasi adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak. Taktik berubah, fisik menurun, lawan berkembang, dan sepak bola terus berevolusi mengikuti zamannya. Kekalahan sering kali menjadi penanda bahwa sebuah era telah usai dan era baru sedang dimulai. Bahkan tim yang menguasai pertandingan bisa kalah hanya karena satu serangan balik, satu pantulan bola, atau satu keputusan yang tidak berpihak. Kalau semua hasil bisa dihitung melalui statistik, mungkin pelatih cukup membawa kalkulator ke pinggir lapangan, sementara para suporter sibuk memperdebatkan merek baterainya.
Islam mengajarkan agar manusia tidak larut dalam kegembiraan ketika menang, dan tidak tenggelam dalam kesedihan ketika kalah. Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139). Nabi bersabda bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, niscaya begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wa ma syaa’a fa’ala (Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi).'” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa ikhtiar harus maksimal, evaluasi harus jujur, tetapi hasil akhirnya diterima dengan lapang dada sebagai bagian dari ketetapan Allah.
Kearifan Minangkabau sejak lama telah mengajarkan bahwa perubahan dan kekalahan adalah bagian dari perjalanan hidup. Pepatah “sakali aia gadang, sakali tapian barubah” mengingatkan bahwa setiap perubahan zaman akan mengubah keadaan. Dalam sepak bola, datangnya pelatih baru, lahirnya pemain muda, atau bergantinya gaya permainan adalah sesuatu yang niscaya.
Demikian pula pepatah “nan patah tumbuah, nan hilang baganti”, yang mengajarkan optimisme bahwa yang patah akan tumbuh kembali dan yang hilang akan berganti. Tidak ada kejayaan yang hilang untuk selamanya. Bahkan pepatah “takuruang nak di lua, tahimpik nak di ateh” mengajarkan bahwa seberat apa pun himpitan persoalan, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang tidak menyerah. Karena itu, kekalahan bukanlah kuburan harapan, melainkan ruang untuk menyusun kekuatan baru. Orang Minang juga mengenal petuah “hiduik baraka, baukua jo bajangko”, bahwa hidup harus dijalani dengan akal, ukuran, dan perencanaan. Dalam sepak bola, semangat saja tidak cukup; kemenangan lahir dari strategi yang matang, evaluasi yang jujur, dan kesediaan belajar dari kekalahan.
Intinya hikmah terbesar dari sebuah kekalahan bukanlah rasa sakit yang ditinggalkannya, melainkan pelajaran yang diwariskannya. Kekalahan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, keberanian untuk bangkit, dan kebijaksanaan untuk menerima bahwa tidak semua impian harus terwujud sesuai rencana. Dalam kehidupan tidak semua orang ditakdirkan menjadi naga yang terbang tinggi di langit. Bisa saja menjadi cacing yang tetap hidup, terus bergerak, menyuburkan tanah, dan memberi manfaat pun memiliki kemuliaan. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh seberapa sering ia menang, tetapi oleh seberapa kuat ia bangkit setelah jatuh. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). Maka, tidak ada kekalahan yang sia-sia bagi mereka yang mau mengambil hikmah. Kemenangan mungkin menghadirkan tepuk tangan, tetapi kekalahan sering kali melahirkan kebijaksanaan. Dan pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat mereka yang selalu menang, melainkan juga mereka yang mampu bangkit, berubah, lalu memberi makna bagi perjalanan hidupnya dan bagi orang lain.
1 Comment
good event